My Love is You 2A

My Love is You Part 2A

Author: Beta1212

Main Cast : Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Do Kyungsoo, Luhan

Support Cast : Sehun, Paman Byun

Note : UNEDITED mianhamnida jika banyak typo hehehe🙂

In this chap full flash back, and all is Do pov

Enjoyed the story😀

 

 

 

DO pov

Flash Back

Hari ini 23 juli 2008 – hari hujan

Aku hanya bisa berdiri mematung memandang tuan muda Chanyeol yang tengah menatap lesu nisan kedua orang tuanya. Ia hanya berlutut diam di makam kedua orang tuanya. Menyurhku untuk menjauh dan membiarkan hujan mengguyur tubuh tingginya. Aku hanya bisa menurut dan berdiri sepuluh meter darinya.

Air hujan membasahi sekujur tubuhnya yang tak terlindung apapun pandangannya kosong dan ia hanya terpaku dan terus mengelus nisan hitam yang masih baru itu. Aku sangat kasihan melihat keadaannya tapi sayang ia sudah tak mau mendengar ucapannku. Dan aku hanya bisa mengikuti permainnannya dan membiarkan ia tenang di tempatnya.

Aku melirik jam bandulku dan menyadari sudah sekitaer setengah jam lebih ia bersimpuh dalam hujan,dan aku tak bisa mendekat apalagi mengajakknya pergi. Aku hanya menjalankan apa yang diperintahkan oleh tuanku. Aku masih setia berdiri dibelakangnya dengan tanpa memakai payung untuk menghormati tuanku. Aku tak perduli jika aku yang kedinginan terkena hujan. Tubuhku sudah sangat terlatih dengan berbagai jenis cuaca. Itulah sebabnya keluarga Park selalu memilih Keluarga Do untuk menjadi pengawal mereka. Sebenarnya aku adalah generasi ke empat belas yang mengabdi untuk keluarga Park. Aku adalah anak penerus keluarga Do yang diberi kehormatan untuk melayani keluarga Park, dan Park Chanyeol lah tuan yang harus kujaga hidupnya. Memang ini terdengar aneh dan mengada-ngada tapi inilah kenyataannya. Keluarga Park yang merupakan Keluarga bangsawan sejak dua ratus tahun yang lalu, adalah keluarga yang terus kami layani dan kami jaga sebagai penghormatan kepada seluruh leluhurku. Aku pertama kali bertemu dengan tuan Chanyeol ketika aku berumur tujuh tahun dan ia baru berumur empat bulan. Ketika itu aku sudah dipercayakan untuk mengurusi seorang bayi yang bahkan beum bisa duduk. Sunggung aku takut dan aku teramat bingung saat itu. Tapi ajaran keluarga yang telah dengan sempurna meresap dalam nadiku membuatku mau tak mau menjalankan tugas ku ini.

Pertama kali kulihat bayi laki-laki yang kugendong itu ada rasa senang menyelusup dalam hatiku. Bayi itu sangat tampan, dan juga rapuh. Aku sangat hati-hati ketika menyentuhnya, Aku tak mau menyakiti bayi kecil yang tampan itu. Siang dan malam aku berusaha menjaganya dengan seluruh nyawaku. Aneh memang seorang bocah seperti ku di percayai untuk mengurus bayi. tapi apa boleh buat ini adalah takdirku sebagai seorang anggota keluarga Do.

Setiap Do laki-laki akan menjadi pengawal pribadi bagi penerus keluarga Park, maka dari itu harus terjalin ikatan batin yang kuat diantara kami. Dan itu lah sebabnya aku yang kala itu masih bocah sudah diberi kepercayaan oleh tuan Suho untuk mengurus anaknya Park Chanyeol.

Dan ada satu alasan lagi mengapa aku tak bisa menolak dari takdirku ini. semuanya karena sumpah yang kulakukan ketika aku berumur 3 tahun. ketika itu bagian punggungku sudah di tandai dengan di beri tato berbentuk kincir angin kecil di bagian kiri atas punggungku. Itulah sumpah yang aku lakukan dan aku sudah sepenuhnya terikat dengan keluarga Park.

Aku jadi sedikit mengenang masa lalu karena menyaksikan pemandangan yang menyedihkan ketika orang yang selama ini selalu kau urus  sejak kecil serta kau jaga lebih dari hidupmu kehilangan orangtua yang paling kaucintai. Ingin aku menarik tuan Chanyeol pergi dari makam orang tuanya, ingin aku membuatnya sadar bahwa dengan melakukan hal itu takan merubah apapun. Tapi apa yang terjadi aku hanya diam tak mampu bertindak. Bahkan ketika ia menolakku untuk memayunginya saja aku segera menurut tanpa bisa ku melawan. Separah itukah tubuhku yang termakan sumpah untuk selalu mematuhi keinginan tuan ku satu-satunya Park Chanyeol itu. Bahkan kiranya ketika ia memintaku untuk membunuh seluruh keluargaku aku yakin tubuh ini segera melakukannya tanpa perlu bertanya alasannya lagi.

Aku tetap membatu dan satu-satu nya yang bisa kulakukan hanya menatap jam bandul emas milikku untuk mengalihkan penyesalanku karena tak mampu menolak keinginan tuan Chanyeol.

Dua jam. Ia masih  sangat betah di tempatnya. Namun sebelas menit kemudian ia berdiri dan aku segera membuka payung hitamku untuknya. Ia menoleh kearahku dan tersenyum kosong. Aku tak membalas senyum pedihnya. Aku sakit melihat senyum kesedihannya aku hanya dengan datar melihat tubuhnya yang sedikit terhuyung berjalan kearahku. Ia memegang bahuku dan ia memelukku erat hingga payung yang kusiapkan untuknya jatuh ke tanah berumput. Dan aku hanya diam tak bergerak membiarkannya memelukku.

“Do..Mereka tak mau menjawabku. Padahal aku sudah berhasil mendapatkan beasiswaku ke Harvard seperti yang mereka mau. Dan aku sudah membujuk mereka untuk bangun dan datang ke acara wisudaku nanti, aku sudah berjanji pada mereka agar bisa menamatkan kuliahku dalam tiga tahun saja. Tapi mereka tak menjawabku Do. Aku harus bagaimana? Apakah mereka akan bangun ketika aku memutus urat nadiku?” ucapnya samar karena suaranya teredam air hujan. Aku hanya memandang lurus kedepan dari celah bahunya yang masih memelukku. Kurasakan panas dilehernya semakin menjadi karena ia terlalu lama berada di bawah hujan dan kupastikan ia sakit sekarang ini.

“tuan Chanyeol sebaiknya kita pulang sekarang. Anda demam tuan.” Hanya itu yang bisa kuucapkan padanya dan ia melepaskan pelukannya padaku. Dan menatapku tak percaya seolah-olah aku ini musuhnya.

“k-kau bukan Do. Do ku tak mungkin melawan.” Ucap nya tak jelas. Matanya sudah tak lurus menatapku. Dan ia berjalan mundur dan jatuh karena tubuhnya sudah tidak kuat. Aku segera menghampiri dirinya yang  terjatuh sambil menutup matanya dengan sebelah tangannya dan kulihat ada sungai kecil yang mengalir keluar dari celah punggung tangannya. Dan aku atau siapapun dapat tahu dengan pasti bahawa itu bukan air hujan melainkan air mata sedihnya. Setelah seharian menahan diri ini lah pertama-kalinya ia menangis.

Dan aku segera mengangkat tubuh jangkungnya dan menggendongnya di punggungku. Dan berjalan menuju mobil yang terparkir di halaman pemakaman keluarga park.

“Do… kumohon jangan tinggalkan aku.” Ucapnya di telingaku. Aku hanya mengangguk meski ku yakin ia tak melihatnya karena matanya sudah terpejam. Suhu tubuhnya memanas dan aku segera bergegas ke audy hitam yang terparkir di halaman makam keluarga Park. Ku baringkan tubuhnya di kursi pernumpang dan aku menjalan kan audy hitam ini kilat.

At Park Home

“kepala pelayan Do. Ini obatnya dan usahakan untuk membuatnya tetap istirahat selama seminggu ini. jauhkan semua benda yang berhubungan dengan orang tuanya agar stressnya tidak meningkat dan memperburuk kondisinya.” Ucap Dokter Byun dokter pribadi keluarga Park sekaligus satu-satunya dokter yang cocok untuk tuan Chanyeol (hanya saja Cuma aku yang tahu hal itu)  pada ku. Setelah memberikan resep obat  aku segera mengantarkannya pulang lalu pergi ke rumah sakit milikknya untuk mengambil obat yang dibutuhkan oleh tuan Chanyeol dan beberapa persediaan Obat untukku.

“kyungsoo.” Ucapnya pelan pada ku yang hendak pergi dari rumah sakitnya.

“neh?” aku memandangnya bingung.

“apakah kau masih suka berburu?” ucapnya menerawang padaku. Aku hanya tersenyum padanya dan segera meninggalkannya. Ia hanya menatap punggungku yang menjauh.

“berburu? Kedengaran menyenangkan. Sudah lama aku tak melakukannya dan ini semua berkat kau paman.”ucapku riang sambil mengangkat sebuah tabung pelastik putih yang Dokter Byun buatkan untukku. Lalu aku melanjutkan langkahku dan meninggalkan dokter Byun.

Aku tersenyum mengingat ucapan terakhir dokter Byun padaku. Membuatku kembali mengingat hal yang tidak ingin ku ingat. Yah obat yang ku beli adalah obat untuk menurunkan hasrat untuk membunuh. Aku yang terlahir dari rahim seorang ibu yang merupakan keturunan keluarga pembunuh bayaran Shin dan ayahku yang merupakan kepala keluarga Do yang melayani keluarga Park selama bertahun-tahun, membuat tubuhku dialiri darah yang memiliki hasrat membunuh yang kental. Sejak aku berumur setahun aku sudah berhasil membunuh anak anjing milikku dan ketika acara sumpahku aku telah membunuh manusia pertamaku. Dan ketika aku berumur sepuluh tahun aku berhasil membunuh sahabat yang sudah kuanggap saudaraku sendiri karena ia tak becus menjaga tuan Chanyeol. Dan ketika aku berumur lima belas tahun aku bertemu dengan Dokter Byun yang kaget melihat seorang bocah laki-laki berumur lima belas tahun keluar dari gudang gangster tanpa sedikit pun debu di bajuku. Dokter Byun adalah warga biasa yang tak sengaja memergoki ku yang tertangkap oleh gangster yang saat itu sangat  mengganggu keamanan dan ketentraman warga. Sehingga aku yang kala itu sedang menganggur jadi tertarik untuk melakukan hobi membunuhku. Aku menyerahkan diriku pada mereka yang langsung membawaku ke sarang mereka untuk dipukuli bersama-sama seperti keinginannku. Dan saat itulah dokter Byun melihatku dan mengikutiku.

Aku yang telah berhasil memasuki gudang gelap yang sudah tak terpakai lagi segera menyunggingkan senyuman bahagia ku karena mataku menangkap jumlah fantastis disana. Ada sekitar seratus orang yang bisa kubunuh dan itu membuatku semakin senang. Aku tersenyum sangat bahagia di umurku itu karena baru sekaranglah aku bisa membunuh sepuas yang kubisa. Aku segera menyiripkan tanganku hingga tajam. Dan kurobek tali yang membelit tangan ku dari belakang. Dan sebelum dua orang yang menjagaku sadar akan lepasnya talli yang mengikatku, segera saja kususupkan tanganku ke dada mereka dan ku tarik benda kenyal yang terus berdetak indah hingga terlepas dari tempat yang seharusnya. Dua orang yang menjagaku menatap tak percaya pada kejadian yang sangat cepat ketika aku berhasil mencuri jantung mereka. Mereka hendak meraih wajahku namun sayang tanganku terlalu cepat untuk memencet jantung mereka. Aku dengan cepat mencuri jantung orang-orang itu.

“3…7…15…32…46…70…92..96..99..100.” aku menghempaskan tanganku keras hingga darah yang ada di tanganku terlepas semua. Dan aku menjatuhkan benda kenyal keseratus itu kelantai dan menginjaknya. Aku segera turun dari gunungan mayat tak berjantung itu. Dan segera melemparkan berda bulat yang sudah ku stel waktunya untuk meledak lima menit lagi.

“selamat tinggal.. hari ini sangat menyenangkan. Terimakasih.” Ucapku sambil membungkuk kan badan dan meninggalkan ruangan itu.

Ketika aku melangkahkan kaki ku keluar aku menemukan seorang pria berumur  sekitar 30 tahunan segera memelukku yang  menatapnya bingung.

“k-kau tak apa-apa?” ucapnya panic sembari meraba wajah dan pundakku. Ia dengan tatapan tak percayanya segera meneliti tubuhku yang bersih tanpa luka maupun debu.

Aku tersenyum melihat tingkah konyolnya. Dan aku segera meraih wajah paniknya yang tulus tak dibuat-buat.

“aku baik-baik saja paman. Tenanglah.” Ucapku padanya sambil tersenyum dan bisa kulihat tatapan tak percayanya dan ia segera menarik tubuhku pergi dan memasukkanku pada mobil nya yang tak begitu jauh terparkir dari gudang tadi.

“akan kuantarkan kau pulang dan kusuruh ibumu untuk memarahimu agar tidak berurusan dengan gangster itu lagi.” Ucapnya panic dan aku tertawa mendengar ucapannya.

“hahaha… sebaiknya paman segera melajukan mobil ini jika paman tak ingin mati.” Ucapku sambil terkekeh memegangi perut. Aku melirik arloji ku dan waktu bom itu meledak hanya tinggal dua menit lagi.

“apa maksud mu. Ia malah membalikkan tubuhku agar mengarah padanya membuatku geram dan segera menginjak pedal dan melajukan mobil nya. Ia Nampak terkejut dan berusaha untuk menjauhkanku dari atas tubuhnya. tapi sayang paman tenagamu tidak cukup.

DUARRRR

Aku tersenyum senang mendengar suara ledakan yang cantik itu. Dan segera ku hentikan mobil si paman. Yang Nampak shock dengan apa yang baru didengarnya.

“itulah yang kumaksud dengan mati paman.” Ucapku sambil tersenyum dan paman itu menatapku horror.

“k-kau monster.” Ucapnya tak percaya. Dan ia segera memelukku. Sebenarnya aku bisa langsung membunuhnya saat itu karena ia memanggilku dengan sebutan yang paling aku benci. Tapi kuurungkan kembali niatku karena ia dengan sangat erat memelukku dengan seluruh perasaan sayang nya.

Aku tahu ia mengucapkan kata yang ku benci itu tidak sungguh-sungguh makannya aku tak jadi membunuhnya. Dan aku hanya diam mendapatkan perlakuan hangat dari seorang yang tak kukenali pertama kalinya dalam hidupku.

“aku baik-baik saja paman.” Ucapku tenang dan ia melepaskan pelukannya dari tubuhku lalu mengusap kepalaku.

“syukurlah kau baik-baik saja.” Lalu ia menghapus air mata yang keluar dari matanya.

Aku tersenyum karena baru menemukan ada orang yang mau menangisiku bahkan orang tuaku tidak sedikitpun menunjukkan emosinya. Tapi paman ini berbeda ia dengan tanpa malu dan takut menunjukkan siapa dirinya dan aku jadi tersentuh oleh kelakuannya. Dan rasa penasaran mulai tumbuh di hatiku.

“mm siapa namamu nak? Namaku Byun Minhyuk.” Ucapnya sambil tersenyum.

Aku tertunduk bingung. Haruskah ia memanggilku dengan nama asliku. Memanggil nama pemberian orang tuaku yang tak pernah mereka ucapkan sekalipun.

Aku kembali tersenyum padanya. “namaku Do Kyungsoo.” Dan kupercayakan namaku padanya. Agar ia dapat memanggil nama ku satu-satunya bukan Do si generasi empat belas ataupun pengawal keluarga Park tapi Do Kyungsoo namaku satu-satunya.

“aah Kyungsoo, nama yang bagus.” Lain waktu mainlah kerumah ku kau akan ku kenalkan pada anak-anak ku. Luhan dan Baekhyun kau tahu mereka anak-anak yang manis.” Ucapnya sambil tersenyum dan mengendarai mobilnya.

“mm paman orang tuaku tidak ada di rumah. Bolehkah kau mengajakku main kerumahmu sekarang?” ucapku polos. Paman itu Nampak terkejut namun sedetik kemudian ia tersenyum dan mengangguk, membuatku tersenyum.

“kebetulan Luhan pasti sudah pulang kau pasti bisa bermain dengannya.” Ucapnya senang. Dan aku tersenyum karena tingkahnya yang ceroboh. Tak tahukah ia sudah membawaku yang di sebutnya monster ke rumahnya? Tak curigakah ia tentang latar belakangku? Apakah ia berpura-pura tak takut? Molla aku tak tahu. Yang jelas aku sedang senang karena sudah berhasil berburu dan mendapatkan seorang yang mengakuiku sebagai Do Kyungsoo. Semoga kau tak menghianati kepercayaanku paman.

@ Byun House

“Baekhyun, Luhan, appa pulang.” Ucap paman Byun ketika memasuki rumah minimalisnya yang nyaman. Aku berdiri di belakangnya. Dan tak berapa lama kudengar suara hentakan kaki yang menuruni tangga dengan cepat. Yang pertama kali muncul adalah seorang anak laki-laki berparas cantik dengan senyuman terkembang hingga matanya membentuk senyuman membuatku tanpa sadar tersenyum karena wajahnya yang cantik. Kutaksir umurnya tak jauh beda dari usia Tuan Chanyeol. Anak laki-laki yang cantik itu segera berlari kearah paman Byun dan segera memeluknya.

“appa Luhan hyung menjahiliku.” Ucapnya dengan wajah yang memelas. dan paman Byun segera memasang wajah marah yang dipaksakannya membuat anak lelaki dalam gendongannya tersenyum dan paman byun segera mendekatkan hidungnya kearah hidung anak lelaki itu membuat tawanya semakin meriah. Dan aku ikut tertawa melihat keakraban mereka yang mengingatkanku pada tuan Chanyeol kecil yang dulu sangat manja padaku. Aaah aku jadi seperti Bapak-bapak saja.

Anak lelaki itu seperti menyadari kehadiranku sehingga tawanya terhenti dan segera menatapku bingung. Aku pun tersenyum manis padanya tatapan matanya yang Nampak menginterogasiku.

“aah, Baekhyun dia Kyungsoo hyung, dan Kyungsoo ini anak bungsuku Byun Baekhyun.” Ucap paman Byun mengenalkan anaknya padaku. Dan aku tersenyum dan mengacak rambut Baekhyun pelan. Ia tersenyum ketika aku mengacak rambutnya.

“salam kenal Baekhyun-ah.” Ucapku dengan nada hangat. Ia tersenyum lebar lalu turun dari gendongan appanya dan segera menarik tanganku dan mengajakku menaiki tangga menuju lantai dua.

“baekhyun jangan nakal. Kyungsoo jangan menakuti anakku yaa. Hahaha.” Canda paman Byun dan aku hanya tersenyum menangapinya.

Baekhyun Nampak lelah menaiki tangga segera saja kuangkat tubuh ringannya dan berjalan perlahan menaikki tangga yang cukup panjang itu.

“terima kasih hyung.” Ucap baekhyun manis sambil menundukkan kepalanya yang masih ada dalam gendonganku.

“hyung sekarang kau buka pintu itu.” Ucap Baekhyun padaku yang sudah sampai di lantai dua dan aku berjalan mendekati pintu bercat putih yang terdapat tulisan Luhan.

KREEEKKKK

Ketika aku masuk aku terkejut melihat keadaan ruangan yang sangat rapih. Semua tanpa celah dan tertata dengan sempurna. Lalu aku melangkahkan kaki ku untuk masuk dan kuturunkan baekhyun dari gendonganku. Dan ia segera menarikku untuk duduk di kursi meja belajar yang kuyakin milik kakaknya itu. Dan Baekhyun pergi meninggalkanku sendirian di kamar Luhan.

Mataku menjelajah isi ruangan dan kini pandanganku jatuh pada figura di atas meja belajar. Di figura itu ada foto paman Byun, Baekhyun, dan seorang anak laki-laki yang lebih tua dari Baekhyun yang kuterka adalah Luhan karena ia berpakaian sangat rapih berbeda dengan Baekhyun yang di bagian depan kaos birunya terkena lelehan es krim  serta serta seorang wanita yang kurasa adalah ibu dari Baekhyun dan Luhan karena wajah wanita itu sangat mirip dengan Luhan.

Foto itu berlatarkan pantai dan disana Luhan memeluk Baekhyun dari belakang dan Baekhyun tidak melihat kearah camera dan malah melihat kearah pasir yang terdapat es krim coklat yang jatuh. Lalu paman dan bibi Byun saling merangkul.

“cantik.”

DRAP DRAP DRAP

“K-kau..” ucap seorang pemuda yang terlihat terkejut melihatku yang tengah duduk dengan santai sambil memegangi figura putih milikknya. Ia berjalan kearahku dan dari dekat aku bisa melihat dengan jelas parasnya yang cantik dengan kulit putih yang terlihat begitu lembut. Hingga tanganku tanpa sadar mengelus pipinya. Dan ia tersentak karena perilakuku.

“ah ada kotoran.” Ucapku yang langsung membuatnya panic. Dan segera meraih cermin dan mencari-cari noda di pipinya dan paras indah aniii cantiknya terlihat murka menatapku yang ketahuan berbohong.

“kau berani-beraninya memasuki kamarku.” Teriaknya keras seperti wanita. Membuatku tertawa karena pikiran bodohku yang sempat menganggapnya wanita.

“jangan salahkan aku, Baekhyun yang mengajakku kemari.” Ucapku sambil mendekatkan wajahku ke wajahnya hingga dapat kurasakan hembusan nafasnya di wajahku. Aku lihat ketakutan di matanya tapi aku sama sekali tak berniat untuk mundur dan semakin kudekatkan wajahku hingga hampir mencapaibibirnya namun ia segera mendorongku hingga jarak yang tadi menyempit kini berjarak cukup lebar.

“A-apa yang mau kau lakukan .” jeritnya lagi membuat kupingku sakit karena teriakannya yang memekkakan pendengaranku. Segera ku tutup mulut berisiknya dengan telunjukku.

“berhentilah menjerit seperti anak perempuan Nunna.” Ucapku mengejeknya dan segera kuserahkan figura yang tadi ku pegang. Padanya yang membatu di tempat.

“Luhan Hyung, Kyungsoo Hyung ayo makan siang.” Teriak Baekhyun dari mulut kamar Luhan pada kami yang masih terdiam di tempat masing-masing.

Aku segera mendekati Baekhyun yang Nampak kelelahan karena ku yakin ia berlari kencang untuk sampai kelantai dua.

“tentu.” Ucapku sambil tersenyum renyah dan kugendong kembali Baekhyun.

“Luhan Hyung ayo makan siang.” Ucap Baekhyun polos pada Luhan yang masih berdiri membatu. Yang langsung menatapku tajam dan mengambil Baekhyun dari gendonganku.

“aaah.. aku mau sama Kyungsoo hyung.” Rengek Baekhyun tak kalah keras dari teriakan hyungnya. Aku hanya mengangkat bahu atas kelakuan tak bersahabat dari Luhan yang Nampak sangat membenciku.

“sudahlah Baekhyunnie Luhan hyung lebih baik dari pada Kyungsoo hyung ne.. nanti Hyung suapi kamu.” Ucap Luhan sambil tersenyum dan sengaja melakukannya di depanku.

Sayang hanya wajahnya saja yang cantik, kelakuannya seperti kakak perempuanku. Menyebalkan !

***

“Baekhyun kau harus makan brokolimu.” Ucap Luhan sedikit keras pada Baekhyun yang menutup mulutnya dengan tangan. Aku yang semula diam tak perduli akhirnya turun tangan juga ketika Baekhyun menangis. Dan Luhan menjadi sebal dan menghentikan acara makannya. Sedangkan paman Byun seolah-olah sudah terbiasa dan lalu mendatangi Baekhyun hendak menghentikan tangisnya. Hanya saja ia kalah cepat denganku yang segera meraih tubuh ringan di sampingku. Dan mendudukkan tubuhnya ke pangkuanku dan kuhapus air mata yang terus meleleh membasahi pipinya.

“cup..cup…cup… uljimma Baekhyunnie” ucap ku lembut sambil mengusap punggungnya. Dan perlahan nafasnya berubah teratur dan iapun berhenti menangis.

“anak pintar.” Ucapku sambil mencolek hidungnya dan ia pun tersenyum manis. Aku mendelik kearah Luhan yang Nampak kesal karena aku berhasil menenangkan Baekhyun. Dan aku tersenum mengejek kearahnya membuatnya semakin kesal. Lalu pergi meninggalkan ruang makan.

“aaahh kau hebat Kyungsoo.” Ucap paman Byun padaku dan segera mengacak rambutku sayang.

Aku hanya mengangguk menanggapi nya.

“Baekhyunnie. Apakah Luhan Hyung mu selalu bersikap sepertiitu?” tanyaku pada Baekhyun.

“Anii dulu Luhan Hyung tidak menyebalkan seperti ini hanya sampai eomma sakit Luhan hyung langsung berubah menyebalkan dan sok bersikap seperti eomma.” Aku mengernyitkan dahiku bingung. Mendengar perkataanya polosnya.

“eomma mu sakit apa?” ucapku penasaran.

Baekhyun tidak menjawab dan segera mengalihkan pandangannya pada piringnya yang berisi penuh brokoli yang belum tersentuh.

“aish aku benci brokoli.” Ucapnya sambil memeletkan lidahnya. Dan aku segera mengambil sendok dan menyendokkan brokoli dari piring Baekhyun dan memakannya untuk dirinya sendiri. Baekhyun menatap ku bingung dan aku yang sadar atas tatapan bingung Baekhyun segera menghentikan acara makannya dan mengarahkan sendoknya ke mulut Baekhyun yang langsung dihalangi oleh tangannya.

“aaaaah..” ucap ku seperti saat aku sedang membujuk Chanyeol untuk makan bayam. Baekhyun semakin mengatupkan mulutnya dan ketika itu aku menggelitik pinggang Baekhyun hingga ia terpaksa melepas tangannya dari mulutnya sendiri dan brokoli itu berhasil masuk dengan selamat.

“Bagaimana Baekhyunnie, enak bukan?” ucapku dengan senyuman termanisku. Dan Baekhyun sambil malu-malu mengangguk pancaran matanya seolah berkata

Tak kusangka brokoli seenak ini

“kau tahu Baekhyun kamu mirip sekali dengan orang yang kusayangi.” Ucap ku sambil mencubit pipi Baekhyun yang tembem.

“siapa dia Hyung?” ucap Baekhyun ingin tahu.

“dia seumurmu dan namanya Park Chanyeol.” Ucapku pada Baekhyun yang langsung mengangguk-ngangguk seolah mengerti.

Tak sengaja kulihat jam yang tergantung di meja lemari pendingin dan sudah menunjukkan waktu Tuan Chanyeol pulang sekolah. dan aku segera menyerahkan Baekhyun pada Luhan dan segera berpamitan pada Keluarga Byun.

“hyung besok kau main lagi?” ucap Baekhyun saat melepas kepergianku. Aku tak menjawab hanya tersenyum dan mengacak rambut hitamnya.

Belum jauh aku berjalan. Luhan menarik bahuku dan menyerahkan sebuah bungkusan yang tak kutahu apa isinya.

“itu Kimchi buatanku. Tadi kau tak sempat makan itu. Datang lah lagi, mm terimakasih sudah membuat Baekhyun  tidak takut brokoli lagi.” Ucap Luhan panjang lebar dan ketika ia tuntas dengan perkaranya dan hendak pergi. Aku menarik tangannya dan mengeluarkan pena dari saku kemejaku. Dan menuliskan anga di telapak tangannya.

“itu nomorku. Hubungi saja aku jika kau tidak bisa menghadapi Baekhyun dengan baik.” Lalu aku mengekuarkan dua lembar ticket dari saku celanaku dan menyerahkannya pada Luhan.

“kutunggu kau dan Baekhyun hari minggu pukul 11 dan jangan lupa bawa kimchi andalanmu. Annyeong.” Dan aku segera berlari meninggalkannya tanpa membiarkan bibir berisiknya mengeluarkan kata-kata yang memekakkan telinga.

Aish apa aku sudah gila?

***

“Do jadi kan kau menemaniku bermain hari ini.” ucap Tuab Chanyeol padaku yang tengah menyiapkan makanan bekal kesukaannya. Aku tersenyum padanya dan mengangguk membuatnya tertawa senang. Dan segera berlari ke kamarnya untuk mengambil topi kesayangannya. Aku pun kembali ke bekal untuk makan siang kami dan kakak beradik Byun. Yup hari ini adalah hari dimana aku dan Tuan Chanyeol pergi ketaman bermain milik keluarga Park. Dan untuk meramaikan suasana aku mengajak Luhan dan Baekhyun untuk bermain bersama. Sebenarnya ini bukan yang pertama kalinya Tuan Chanyeol pergi ke taman bermain hanya saja ini pertama kalinya ke taman bermain umum dimana bukan hanya ia saja yang bisa bermain taetapi orang-orang yang tak dikenalnya juga bisa ikut serta. Tidak seperti biasanya yang hanya di temani oleh ku untuk memainkan semua wahana permainan sekelas Disney Land khusus untuk tuan Chanyeol saja. Tuan muda ku yang satu ini sangat menginginkan interaksi dengan orang banyak mungkin karena ia lelah dengan semua keadaan VVIPnya yang mengharuskan ia melakukan segala sesuatu dengan eksklusif dan hanya kalangan tertentu. Makannya ketika aku berhasil membujuk sesepuh untuk membawa Tuan Chanyeol ke taman bermain umum Tuan Chanyeol sangat bahagia dan semakin bahagia ketika kubilang aku mengajak temanku untuk bermain bersama.

“Do bagaimana penampilanku.” Ucap Tuan Chanyeol lantang. Dan aku mengangguk sambil menunjukkan jempolku. Lalu aku membawa bekal kami dan segera menggenggam tangan tuan Chanyeol untuk menaiki mobil sport yang sudah disiapkan sesepuh untuk kami hari ini.

“Do kau juga memakai topi?” ucap tuan Chanyeol heran padaku. Yang memakai topi kebanggaanku hanya untuk bermain ke taman bermain.

“ya, aku berharap dengan aku yang memakai topi ini aku akan mendapatkan keberuntungan.” Ucapku sambil focus pada jalanan.

Tuan Chanyeol hanya mengangguk dan ia kembali pada hayalan menyenangkannya sambil tersenyum sendiri.

***

“Do mereka siapa?” ucap Tuan Chanyeol padaku ketika aku menunjukkan dua orang teman yang akan bermain dengan kami. Sambil berjalan mendekat kearah namja seumuran denganku yang memakai kaos lengan panjang bergaris hitam putih yang dipadukan dengan cardigan putih dan tas selendang berwarna krem. Dan yang  satunya berumur sekitar 8 tahun seumur tuan Chanyeol yang memakai kaos biru langit dan celana pendek selutut serta sepatu kets putih. Si kaka terus menerus memperhatikan jam tangannya bersiap menelepon tapi takjadi terus seperti itu. Dan si adik Nampak tak perduli dengan kerisauan kakaknya dan malah mengerak-gerakkan bibirnya seperti sedang menyanyi.

“mm Do.. anak iru manis sekali.” Ucap tuan Chanyeol padaku dan aku segera menangkap arah pandangnya yang terus menatap Baekhyun.

“ah maksud tuan Baekhyu. Ya dia anak yang manis. Aku selalu menganggapnya seperti adik ku sendiri.” Ucap ku sambil terkekeh dan Tuan Chanyeol segera menghentikan langkahnya membuatku bingung karena tindakan spontannya.

“waeyo tuan Chanyeol?” ucapku bingung pada Tuan Chanyeol yang membatu

“Do untuk hari ini kuperintahkan kau untuk memanggil nama kecilku saja, dan menyahutlah ketika kupanggil namamu dengan sebutan hyung. Bilang pada si namja cantik itu bahwa aku adalah adikmu.” Ucap tuan Chanyeol panjang lebar. Sehingga membuatku tersenyum melihat matanya yang berkilat menatap Baekhyun seperti mengincar sesuatu dan aku hanya mengangguk kepalaku patuh.

Aku melambaikan tanganku kearah Luhan dan Baekhyun. Dan Luhan seperti jengah menatapku langsung memutar bola matanya kesal sedang Baekhyun segera berlari memelukku. Membuat tuan Chanyeol tersenyum seram karena cemburu.

Aish tuan Chanyeol andapembohong yang buruk

Aku ingin menguji sampai dimana batas senyumnya itu lalu aku mengecup pipi Baekhyun dan dapat kurasakan Tuan Chanyeol menginjak kaki ku keras. Saking cemburunya.

“kau aku sudah menunggumu sejak sepuluh menit yang lalu.” Ucap Luhan padaku yang telah menurunkan Baekhyun dari gendonganku. Aku terkekeh mendengar omelan khas Gadisnya.

“hyung maafkan Kyungsoo hyung. Aku lah yang membuatnya terlambat.” Ucap tuan Chanyeol sememelas mungkin dengan air mata yang mengumpul di pelupuk matnaya seperti siap tumpah. Luhan Nampak tidak tega dan segera memeluk Tuan Chanyeol.

“uljimma ,, tidak apa-apa aku tidak marah kok.” Ucap Luhan lembut pada tuan Chanyeol membuatku sedikit panas karena tuan Chanyeol diperlakukan sangat baik oleh Luhan tidak seperti ku.

dan samar kulihat tuan Chanyeol terseyum pada ku dan matanya seolah berkata

Satu sama

***

Aku duduk di kursi taman setelah setengah hari kulalui dengan berbagai wahana gila yang tidak ada habisnya. Aku tak mengerti pada stamina tubuhku yang bisa dibilang sangat baik diatas rata-rata bisa lelah hanya karena permainan anak-anak macam ini. Jauh dalam hati ku aku sedikit ragu terhadap ketahanan tubuh Tuan Chanyeol yang berubah-ubah kadang sangat lemah, tapi terkadang mengejutkanku. Seperti sekarang misalnya ketika aku dan Luhan sudah tak mampu bergerak Tuan Chanyeol dan Baekhyun masih juga  belum merasa lelah.

Tapi aku bersyukur dapat melihat senyuman Tuan Chanyeol yang sangat langka dengan cuma-cuma seperti ini. Aku dan Luhan hanya memperhatikan kedua hoobae yang sedang asiknya bermain dengan kelinci dan kambing. Luhan tersenyum sangat manis saat memperhatikan kedua dongsaeng itu bermain sangat akrab. Membuat aku yang duduk disampingnya tersenyum konyol karena memperhatikannya.

“Baekhyunnie, Chanyeol-ah ayo makan siang.” Ucap Luhan pada kedua dongsaeng kami. Dan mereka pun segera menyahut dan berlari kearah kami. Dengan senyum yang terkembang serta peluh yang mengalir dari tubuh keduanya menyiratkan mereka sangat menikmati hari ini. aku pun segera melap kepala Tuan Chahnyeol dan Baekhyun bergantian lalu Luhan telah siap dengan limun untuk mereka berdua dan tak kuduga Luhan juga menyiapkan minum untuk ku.

Dengan canggung kuterima gelas plastikku dan aku tertegun melihat kearah gelas ku masih tidak percaya.

“tenang saja itu tidak ku racuni kau bisa meminumnya.” Ucap Luhan ketus karena kelakuan tak sopan dari ku. Entah mengapa aku langsung malu dan segera meminumnya habis dan parahnya aku tersedak.

Sungguh memalukan

“hahahahahah.” Tuan Chanyeol dan Baekhyun segera tertawa karena aksi tersedak ku dan Luhan kau tahu ia melap bibirku dengan sapu tangannya dan menepuk-nepuk punggung ku seperti anak kecil. Dan aku langsung tertegun menatap kearahnya dan suasana canggung serta malu berada di sekitar aku dan Luhan.

“a-ayo kita makan.” Ucap Luhan mengalihkan rasa canggung diantara kami. Dan aku segera mengeluarkan bekal yang kubuat tadi pagi.

“waaahh bekal mu hebat Chanyeol-ah.” Ucap Baekhyun polos pada Tuan Chanyeol dan Tuan Chanyeol tersenyum senang atas pujian Baekhyun dan mengambil sushi kesukaannya dan mengarahkan sumpitnya kearah Baekhyun.

“aaaaahh.” Ucap tuan Chanyeol berani dan Baekhyun dengan senang hati memakannya. Sehingga tercipta suasana Lovey Dovey diatara mereka. Aku dan Luhan menatap tak percaya pada kedua dongsaeng kami yang bersikap sangat mesra. Hingga pandangan mata kami bertemu dan kami merasa malu, langsung sibuk dengan acara makan kami.

“aahh kimchi ini Nampak enak.” Ucap Luhan ketika aku akan menyuapkan kimchi kemulutku. Dan sebelum kimchi itu berhasil masuk kemulutku dengan bodohnya aku mengarahkan kimchi itu kearah Luhan. Luhan menatapkubingung bercampur malu dan dengan ragu-ragu ia membuka mulutnya hingga kimchi tadi berhasil masuk kedalam mulutnya.

Dan setelah itu aku baru merasakan rasa malu yang teramat sangat dalam diriku. Hingga kami serempak membuang muka. Lalu aku langsung bersikap kaku dengan langsung mengambil makanan lain yang dibawa Luhan. Tanpa kutahu bahwa makanan yang baru kumakan itu sangat pedas hingga aku tersedak karenanya dan panas kurasakan hingga ke kuping dan mataku mengeluarkan air mata.

Tuan Chanyeol, Baekhyun dan Luhan langsung tertawa terbahak-bahak melihat kemalanganku dan aku segera mengipasi lidahku yang terasa seperti terbakar. Lalu Luhan memberiku minum yang ternyata sangat panas sehingga kumuntah kan kembali hingga tersembur ke wajahnya dan membasahi tubuhnya.

“Yah! Ini panas sekali.”ucapku setelah menyemburkan minumanku tepat di wajah Luhan. Ekspresinya sekarang sangat kacau. Dan marah sehingga aku segera mengambil tissue dan melap wajahnya yang terkena semburan minuman dari ku.

“kau memang menyebalkan .” ucap Luhan kesal lalu pergi ke toilet. Meninggalkanku dan dua dongsaengku.

Aku menghela nafasku dalam dan berat. Merasa sangat bersalah padanya, tapi tidak semua karena kesalahan ku. Salahnya yang memberiku minuman yang panas. Panas? Aku tak merasakan panas di lidah dan tenggorokkanku. Dan itu semua karena minuman extra panas yang diberikan Luhan untukku.

“aihsh bodohnya aku.” Dan aku mengacak rambutku frustasi.

***

Sudah lebih dari setengah jam aku menunggu kedatangan Luhan yang tadi pergi ke toilet tak kunjung kembali.

“Kyungsoo hyung kami ingin main biang lala.” Ucap Baekhyun yang kesal karena aku menunda-nunda acara mainnya dengan alasan harus menuggu Luhan. Sehingga aku terpaksa mengizinkan dua bocah itu bermain dan segera pergi mencari Luhan.

Aku membuka ponselku dan mencari keberadaan Luhan lewat alat detector yang kupasangkan pada kerah bajunya ketika aku melap wajahnya. Aku sudah punya firasat buruk maka untuk berjaga-jaga kupasangkan juga detector di baju Baekhyun dan Tuan Chanyeol tentu nya tanpa sepengetahuan mereka.

Aku terus mengikuti arah yang ditunjukkan ponselku hingga aku sampai di sebuah wahana rumah hantu. Dan aku segera memasukinya tanpa antri dengan kartu passtrackku.

Aku menyusuri jalan  yang cukup gelap dan berisik ini hingga aku melewati sebuah  ruang yang bertema rumah sakit dan sinyal alat detector Luhan semakin jelas. Lalu  aku berhenti pada sebuah peti lalu aku buka peti kayu itu.

Di dalam peti itu kutemukan sebuah sapu tangan dengan alat detector yang kupasangkan di baju Luhan. Dan aku sudah bisa menebak dengan pasti siapa orang yang berani melakukan kekonyolan ini. Sehun. Adik sepupuku dari keluarga Do golongan depan. Hanya dialah satu-satunya yang berani mencandaiku dengan ide-ide gilanya. Dia juga yang membuat aku menyadari kecintaanku pada membunuh. Karena leluconnya yang memanfaatkan sahabatku  agar mencelakai tuan Chanyeol dan membuatku hilang kendali hingga akhirnya membunuh sahabat tak berdosaku itu. Dan sekarang aku tak akan meloloskanmu kembali Sehun.

“keparat kau Sehun.” Ucapku geram sambil menggenggam kuat sapu tangan putih milik Luhan.  Aku segera meninggalkan wahana rumah hantu dan segera menuju ketempat dimana Luhan di culik.

***

“ah kau datang Hyung.” Ucap Sehun padaku yang sudah sangat panas ingin membunuhnya. Aku mendekatinya dan tanganku sudah siap untuk merobek dadanya dan menghancurkan jantungnya. Sungguh berani sekali dia bermain api dengan ku.

“kau tau kan akibatnya jika berurusan dengan pewaris keluarga Do dan keturunan darah murni keluarga lau kan, Sehun-ah.” Ucapku dingin pada sehun yang tersenyum iblis padaku. Di sampingnya Luhan terbaring tak sadarkan diri. Dan aku dengan perlahan kini sudah ada di depan matanya.

“apa kau sekarang ingin membunuhku?” tantang Sehun padaku. Aku tak menjawab dan tangan kiriku dengan lincah menembus dadanya dan segera ku hancurkan bendaberdetak miliknya. Darah segar segera mengalir dari mulutnya dan ia tetap tertawa dengan kematian konyolnya.

“hahaha.. Kai kuserahkan sisanya padamu.” Ucapnya hampir berbisik dan aku segera menghampiri tubuh Luhan yang tak sadarkan diri kemudian menggendongnya. Dan ku tempelkan sebuah bom pada saku jaket Sehun. Lalu pergi meninggalkannya di area taman ‘Black forest’ wahana Labirin tanpa cahaya.

DUAAARR

“selamat tinggal. Sampai jumpa di pintu akhirat. ” ucapku sambil menggendong Luhan. Aku segera membawa Luhan ketempat yang aman. Ruang santai milik keluarga Park yang ada di bagian selatan taman bermain ini. Aku membaringkan tubuh Luhan disampingku dengan kepalanya yang tidur di pahaku. Lalu aku menekan titik saraf sadarnya yang berada di kiri atas bahunya. Hingga Ia tersadar.

“BAEKHYUUUN.” Teriak Luhan sambil terbangun dari posisinya. Dan ia yang Nampak terkejut segera memelukku erat. membuatku sedikit malu dengan tindakkan langsungnya.

“Uljimma segalanya baik-baik saja.” Ucapku lembut sambil mengelus punggungnya. Ia segera melonggarkan pelukannya dan ia menatapku panic dengan ketakutan yang pekat di kedua bola matanya yang hitam. Dan ia menangis sambil menekap mulut dengan kedua telapak tangannya.

“Baekhyun.. katakan ia tak naik bianglala.” Ucap Luhan panic sambil mencengkeram bahuku. Aku menatapnya bingung, untuk apa ia setakut ini hanya karena bianglala.

“tenanglah aku yakin Baekhyun tidak akan takut ketinggian.” Ucapku sambil terkekeh. Dan tanpa kumengerti apa penyebabnya Luhan segera menamparku.

“kau kenapa?” ucapku sedikit keras padanya.

“kau gila Baekhyun bisa mati.” Ucap Luhan lebih keras dari volume suaraku.

“ma-mati?”

“pria tadi, yang tadi menculikku. Memasang 5 bom di bianglala dan mereka akan meledakkannya seluruhnya jam 5 sore. Setiap 10 menit mereka akan meledakkan 1” Ucap Luhan frustasi. Air matanya mengalir semakin deras. Ketakutan kini menyerang tubuhku. Dan aku segera memandang jam tangan yang Tuan Chanyeol berikan padaku sebagai hadiah ulang tahunku yang ke-15.

16.00

Keparat kau Sehun

Aku segera menarik Sehun pergi mengikutiku ke wahana bianglala. Dan ketika kami sampai seperti yang ku khawatirkan. Tuan Chanyeol menggunakan pass track cardnya sehingga ia dapat memonopoli waktu, urutan, dan lama permainan yang ia kehendaki. Sehingga hanya ia saja yang menikmati wahana bianglala itu sepuasnya. Aku segera berjalan ke ruang control dan mencari benda asing yang memungkinkan adalah sebuah bom. Aku kembali melirik jam tanganku

16.09.55

5

4

3

2

1

DUUAAARR

Medin kendali biang lala di luar hancur sehingga bianlala tidak bisa digerakkan. Dan aku semakin frustasi karena aku belum tahu pasti letak Bom yang terpasang.

Aku segera keluar dari ruang kendali dalam dan segera mendekati arah mesin yang terbakar.

Pip

Pip

Pip

“annyeong bagaimana sambutanku Tuan Do yang agung? Menarik bukan? Terimakasih sudah mau bermain denganku. Hahahaha.” Ucapnya santai seakan-akan apa yang dilakukannya adalah gurauan.

“Siapa kamu! Bajingan kau, hentikan permainan konyolmu dan hadapilah aku, jangan kau bawa-bawa tuan Chanyeol.” Ucapku geram.

“hahahaha sabarlah tuan Do yang agung. Aku ingin melihat ekspresi cemasmu. Tenang saja kau masih punya waktu 50 menit untuk membebaskan tuanmu itu. Dan percuma saja jika kau memanggil pasukan khusus udara. Aku akan segera meledakkan bom yang kutanam dalam tubuh teman kecil tuanmu itu.”

“keparat kau. Jangan berani kau sentuh Tuan Chanyeol ataupun Baekhyun. Jika sampai terjadi sesuatu pada mereka aku berjanji akan membunuhmu dan seluruh keluargamu.”

“hahaha.. aku takut mendengarnya… hahaha… sebaiknya kau perhatikan waktumu yang semakin sedikit tuan Do, sebab bom ku takkan berhenti jika kau tidak menemukan remote controlnya.”

“ku bilang jangan berani melukai mereka.” Teriakku semakin keras. Dan Luhan semakin kuat terisak merasa kecemasan teramat sangat pada adik yang paling dicintainya.

“mm yang melukai mereka bukan aku, tapi kau tuan Do. Untuk menghormati kesungguhanmu kuberi kau satu petunjuk. Remote control ku ada pada teman cantik mu. Dan jika kau menginginkannya. Robeklah jantungnya dan ambil remote control itu di sebelah jantungnya. Hahaha.”

Pip

Dan si keparat itu memutus sambungan teleponnya membuatku meneriakki bajingan itu tak berarti. Aku membanting telepoku keras ketananh, tapi percuma telepon itu tidak rusak sedikitpun. Dan di layar hp ku terlihat detector milik Tuan Chanyeol dan Baekhyun di puncak bianglala. Aku terjatuh ke tanah dan tubuhku menegang  ketakutan mataku menatap horror pada Luhan yang Nampak sangat cemas.

“Do dimana Baekhyun?” teriaknya keras. Dengan berurai air mata.

“mereka ada diatas sana. Dan ditubuhnya di pasangi Bom.” Ucapku sambil menunjuk bilik di bianglala yang kini sedang berada di puncak. Luhan segera terjatuh lemas saking terkejutnya.

“Tuhan apa yang harus kami lakukan.. Baekhyunnie.” Ucap Luhan lirih.

Aki segera merangkul pundaknya dan memelukknya. Mencoba menenangkannya sebelum aku member tahu pengorbanan yang mesti ia lakukan.

“ada satu cara membebaskan mereka.” Ucap ku pelan. Luhan segera bereaksi dan tatapan matanya seperti menusukku.

“apa.. cepat katakana padaku.”

“remote controlnya ada pada tubuhmu. Dan aku harus mengeluarkannya dari tubuhmu jika ingin menyelamatkan mereka.” Ucapku pelan dan lirih. Luhan terdiam ia seolah lambat memahami maksudku. Dan sejurus kemudian ia segera menarik tubuhku untuk memasuki ruang kendali tadi. Dan ia segera menanggalkan kaos yang dikenakannya. Aku terkejut melihat pemandangan di hadapanku. Bisa kulihat di tubuhnya terdapat jahitan yang sangat rapih dan masih baru di dada kirinya. Dan ia pun menatap tak percaya pada jahitan di dadanya. Hingga air mata kembali mengalir dari matanya.

“Lakukanlah.” Ucapnya tegas padaku. Aku menutup mataku dan menarik nafas dalam. Sungguh aku tak mau melakukan ini. tapi maaf  Luhan tuan Chanyeol membutuhkan mu agar ia selamat.

aku segera menekan titik kesadarannya cepat hingga ia tak sadarkan diri. Lalu aku menangkap tubuh tak sadarkan dirinya itu dan kubaringkan keatas sofa di ruang kendali itu. Menatap jam tanganku yang semakin berjalan cepat

DUUUAAAARR

Bom kedua berbunyi dan waktuku kurang dari tiga puluh menit sampai seluruh bom itu meledak aku harus cepat mengeluarkan remote control itu dari tubuh Luhan.

Sehun sebenci itukah kau padaku hingga kau menanamkan benda gila ini di tubuh Luhan.

Luhan kumohon maafkan aku …

 

 

 

 

Tbc

4 thoughts on “My Love is You 2A

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s