Love & Selfishness 2

 

Love & Selfishness

 

Author: Do Yoora

Cast: Do Kyungsoo, Kim Jongin(Kai), other.

Genre: Hurt/Comfort, Romance, University-Life

Rated: T

Length: Twoshoot

Disclaimer: All cast isn’t mine, This Fanfiction is mine!

Warning: Yaoi, Boy x Boy, OOC, Chara Death, Typo(s), No Bashing Chara, No Siders, No Plagiat, etc.

 

Annyeong! Mian author gak bisa cepet” update karena jadwal lebaran emang padat banget, jadi untuk kelanjutan yang Baekyeol kayaknya baru bisa diupdate pas hari lebaran ke-4. Mian sekali lagi. *bow*

 

So enjoy and read my fanfiction! ^^

 

 

.

.

.

DON’T LIKE DON’T READ!

.

.

.

IF YOU DON’T LIKE YAOI OR KAISOO, JUST LEAVE THIS PAGE!

.

.

.

FANFICTION IS STARTED! HAPPY READ! ^^

.

.

.

Kai berjalan mondar-mandir didepan ruang UGD. Sudah hampir setengah jam Kyungsoo berada di dalam. Mata Kai terus bergerak-gerak gelisah menatap pintu UGD yang tak kunjung terbuka juga. Hatinya tidak bisa tenang jika belum mendengar kalau Uisanim berkata bahwa Kyungsoo baik-baik saja.

Beberapa menit kemudian, Jang Uisanim pun keluar dengan raut wajah gelisah namun tetap berusaha tenang Disaat melihat Jang Uisanim sudah keluar, Kai langsung menyerbu sosok itu.

“Uisanim, bagaimana keadaan Kyungsoo Hyung? Dia baik-baik saja kan? Tidak ada yang terluka parah kan pada anggota tubuhnya?” cerocos Kai membuat Jang Uisanim memutar bola matanya kesal.

“Tenang dulu Kai-ssi, untung saja kau cepat-cepat membawanya kesini karena dia hampir kekurangan darah, dan dia baik-baik saja, hanya butuh perawatan beberapa hari dirumah sakit.” Jawab Jang Uisanim membuat Kai menghela nafas lega. Hatinya terasa lega dan entah kenapa senyuman tidak pernah lepas dari wajah tampannya.

 

 

Kai membuka pintu ruang rawat Kyungsoo. Bau obat-obattan tercium disaat Kai baru melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu. Sosok Kyungsoo terbaring lemah di tempat tidur yang berada diruangan itu. Kai mendekati sosok itu dan menggenggam tangannya yang terasa dingin itu. Cairan bening terus mendesak ingin keluar dari pelupuk mata Kai, sosok namja berwajah tampan itu benar-benar merindukan sosok Kyungsoo didepannya ini. Walaupun sekarang ia sudah milik orang lain, tapi hatinya tetap dipersembahkannya untuk Kyungsoo selamanya sampai ia menghembuskan nafas terakhirnya.

Hatinya sudah terlanjur terjerat pada sosok berwajah manis yang sekarang terbaring di tempat tidur ini, sudah tidak bisa berpindah kepada orang lain, cintanya hanya dipersembahkan untuk Kyungsoo, selalu Kyungsoo dan hanya Kyungsoo.

Disaat Kai sedang asik merenung, tiba-tiba ada yang membuka pintu kamar Kyungsoo secara paksa membuat Kai terlonjak kaget. Ia lebih kaget lagi karena melihat diambang pintu berdiri Luhan, kedua orang tuanya dan kedua orang tua Luhan. Keempat orang tua itu menatap Kai dengan tatapan kecewa dan marah, sedangkan Luhan menatapnya dengan mata memerah seperti habis menangis.

Tiba-tiba, Eomma Kai berjalan kearah anaknya dan menarik tangan Kai untuk keluar dari ruangan itu otomatis membuat Kai melepaskan genggaman tangan mereka berdua –Kai dan Kyungsoo-

 

 

Beberapa jam kemudian, akhirnya Kyungsoo pun sadar. Namja itu tersenyum kecewa disaat melihat yang menjaganya bukanlah Kai, tapi Sehun.

 

_Kyungsoo POV_

 

Disaat aku pertama kali membuka mataku, yang terlihat adalah ruangan putih yang berbau obat-obattan. Dan aku mendengar suara Sehun yang memanggilku.

“Kyungsoo Hyung.” Panggilnya sambil mendekatiku. Aku tersenyum kearahnya dan mengarahkan pandanganku keseluruh ruangan ini. Sehun yang sepertinya menyadari maksudku pun bertanya.

“Kau mencari Kai kan Hyung?” tanyanya membuatku menatapnya dengan bingung. Bagaimana namja ini bisa tau?

“Tadi dia yang memberitahuku soal dirimu, dia bilang dia tidak bisa menetap disini karena ada sesuatu masalah.” Ucap Sehun membuatku menghela nafas berat. Aku lupa kalau misalnya dia sudah punya pasangan hidup. Pasti ia pulang karena teringat akan Luhan-gege. Yasudahlah Kyungsoo, tidak ada yang bisa diharapkan lagi darinya, jangan lemah seperti ini.

“Hyung, Kyungsoo Hyung. Kau mau makan dulu?” tanyanya yang hanya dibalas anggukan lemah olehku. Sehun pun menyuapiku dengan perlahan. Aku jadi teringat dulu, Kai sering sekali menyuapiku, aku jadi merindukan masa itu. Masa-masa dimana tidak ada siapapun yang menjadi pengganggu dihubungan kami, semuanya terasa indah dan selalu membuatku terbuai sehingga lupa akan waktu yang terus berjalan, dan sekarang, sosok itu sudah tidak bisa kugapai lagi, sulit bagiku untuk menggapainya kembali dan mengembalikannya kedalam rengkuhanku, lagipula, dia pasti akan belajar mencintai Luhan-ge dan melupakanku, menganggap semua yang kami lalui hanyalah angin lalu, dan memang bukan hal yang penting baginya. Ah, aku jadi berfikiran seperti ini, sudahlah Kyungsoo, berhenti memikirkan sosok brengsek itu, dia bukan siapa-siapa kamu lagi sekarang, relakan ia bersama dengan orang lain.

 

_Kyungsoo POV End_

 

 

Sepulang dari rumah sakit, Kyungsoo pun menjalankan aktivitasnya seperti biasa. Namun sekarang, segalanya terasa berbeda, terasa hampa bagi dirinya. Sekarang tak ada lagi yang mengantar jemputnya kekampus, membangunkannya dari tidur jika mereka mau berangkat kekampus, merengek-rengek kepadanya untuk membuatkan makanan disaat ia mampir kerumahnya sepulang dari kampus, merengkuhnya disaat ia kedinginan karena hujan, memintanya menyanyikan lagu disaat sosok itu terbangun karena mimpi buruk, menemaninya begadang di balkon, dan berbagai hal lainnya. Kyungsoo sadar, ternyata ia memang belum bisa hidup tanpa sosok Kai, sebenarnya, sosok Kyungsoo ini sangat rapuh, tapi dengan topeng senyuman yang sering ia pasang membuatnya terlihat menjadi namja yang tegar dimata orang-orang. Kyungsoo sadar, hatinya memang masih mengharapkan sosok Kai, tapi itu hanya harapan kosong yang tak akan kunjung terkabuli. Cintanya begitu semu, tak ada kepastian sama sekali akan hal itu.

Jujur, tanpa Kai, hidupnya sama sekali tidak berwarna. Hanya warna hitam dan putih yang melambangkan kehidupannya saat ini. Tak ada lagi beragam warna yang bisa melambangkan kehidupannya jika tanpa Kai. Sekuat apapun Kyungsoo bertahan tanpa Kai, tetap saja ia rapuh, rapuh seperti daun kering yang berjatuhan, sekali diinjak, langsung hancur. Sesibuk apapun kegiatan Kyungsoo, bayang-bayang Kai masih tidak pernah hilang dari otaknya, selalu Kai dan hanya Kai yang menari-nari di otaknya. Berbagai usaha yang dilakukan Kyungsoo untuk melupakan Kai sama sekali tidak membuahkan hasil.

Mungkin memang ia tidak bisa memaksakan dirinya untuk melupakan Kai, biarlah hal itu mengalir layaknya air, suatu saat kapanpun itu, ia pasti bisa melupakan Kai.

 

 

 

Pagi ini, Kyungsoo berlari-lari menuju kampusnya. Ternyata namja ini telat bangun karena alarmnya yang mati. Akhirnya kampusnya pun sudah kelihatan, tinggal menyebrang sekali dan berjalan sedikit pun ia pasti sampai. Kali ini ia lebih berhati-hati karena masih trauma akan kecelakaan waktu itu. Tiba-tiba, ia melihat siluet Luhan sedang menyebrang jalan sendirian. Kyungsoo pun mencari-cari dimana sosok Kai yang mungkin saja ada, dan ia melihat sosok itu sedang diseberang. Kyungsoo tersenyum melihat sosok itu, Kai semakin tampan jika ia perhatikan dari sini, dan tiba-tiba ia mendengar bunyi keras dan rem yang diinjak paksa oleh pengemudi. Kyungsoo yang melihat Kai berlari ketengah jalan membuatnya merasa ada sesuatu yang tidak enak terjadi. Dan benar saja, disaat Kyungsoo melangkahkan kakinya ketengah jalan, ia melihat sosok Luhan sedang dipangkuan Kai dengan berlumuran darah. Ia jadi teringat kecelakaan yang dialaminya waktu itu, hampir mirip dengan yang dialami Luhan.

 

 

Kai dan Kyungsoo menunggu didepan ruang UGD dengan perasaan tak menentu. Bagi Kai, kejadian waktu itu seperti terulang lagi, dan hal itu selalu terjadi pada orang yang disayanginya. Tiba-tiba Kai merasa ada yang menepuk-nepuk pundaknya membuatnya menengokkan kepalanya kesamping untuk melihat siapa yang melakukan hal itu. Dan yang dilihatnya adalah sosok Do Kyungsoo yang tersenyum untuk menenangkan Kai padahal Kai tau Kyungsoo juga gelisah dan khawatir pada Luhan.

“Kai, Luhan-ge pasti kuat. Percayalah.” Ucap Kyungsoo berusaha membuat Kai sedikit lebih tenang. Tiba-tiba, Jang Uisanim -yang waktu itu memeriksa Kyungsoo- keluar dengan raut wajah sedih. Kai dan Kyungsoo pun langsung menyerbunya.

“Bagaimana keadaan Luhan-gege?” tanya mereka berdua secara serempak namun hanya dibalas gelengan kepala oleh Jang Uisanim.

“Maaf, saya sudah berusaha sekuat tenaga, tapi nyawa Luhan-ssi tidak bisa diselamatkan lagi. Sebenarnya tidak ada luka yang parah, tapi karena asma yang dideritanya membuatnya sulit untuk ditolong.” Ucap Jang Uisanim sambil menghela nafas berat. Kai dan Kyungsoo menatapnya tidak percaya. Dan sedetik kemudian, Kai langsung masuk keruangan UGD dan menghampiri tempat Luhan berada. Kyungsoo pun segera menyusul Kai masuk keruangan UGD. Disana, Kai terlihat menggenggam tangan Luhan erat membuat Kyungsoo merasa sesak melihatnya. Iapun berusaha mengalihkan rasa itu dan menghampiri Kai yang terlihat menahan tangisannya itu.

Tiba-tiba, Luhan membuka matanya secara perlahan membuat Kyungsoo dan Kai sedikit menghela nafas lega.

Tangan Luhan menggenggam tangan Kai erat dan tersenyum.

“K-kai, te-terima ka-sih se-lama bebe-rapa bu-lan ini su-dah mau mene-maniku menja-lani hi-dupku seba-gai pasa-ngan hi-dupku.”

Tangan Luhan pun beralih menggenggam tangan Kyungsoo.

“Kyung-soo-ah, mian-hae a-ku terla-lu ego-is sehing-ga mere-but Kai dari-mu, ta-pi seka-rang aku titip-kan Kai pada-mu yah, to-long baha-giakan dia, kare-na ha-nya de-ngan-mu dia bisa ba-hagia de-ngan tu-lus dan tan-pa pak-saan.”

Tangan Luhan pun bergerak menyatukan tangan Kai dan Kyungsoo.

“Kalian bahagialah, aku tau kalian sebenarnya masih saling mencintai, aku rela asalkan Kai bahagia, maaf selama ini aku terlalu egois sehingga memisahkan kalian, Annyeong.” Ucap Luhan sebelum ia menghembuskan nafas untuk terakhir kalinya.

 

 

Kyungsoo berjalan menyusuri butiran pasir putih yang tersebar secara tidak merata. Sudah 7 hari Luhan meninggalkan dunia ini, dan sudah 7 hari itu juga Kai mengurung diri dikamarnya. Mengingat hal itu membuat Kyungsoo merasa sesak, pasti Kai sudah mulai menyukai Luhan, makanya ia bersikap seperti itu. Bahkan waktu dirumah sakit dan di acara pemakaman, Kai sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun kepada dirinya. Rasa sesak kembali menelusup kedalam hati Kyungsoo, sosok namja berwajah imut itupun meremas kaus yang dipakainya berusaha menahan rasa sesak yang semakin menjalari hatinya.

Dilangkahkan kakinya menuju lautan biru yang luas, ia terus berjalan sampai lututnya mulai tenggelam. Rasa dingin mulai menusuk kulitnya namun ada rasa geli juga disaat rumput-rumputan yang menggelitik kaki putihnya.

Kyungsoo pun duduk disalah satu batu besar dan melempar kerikil kecil kelaut, namja ini benar-benar bosan berada dipulau Jeju ini, ia bingung apa yang harus ia lakukan karena ia memang sendirian disini. Setelah puas melempari kerikil ke lautan, namja itupun melangkahkan kakinya menuju sebuah pohon kelapa yang masih cukup muda dan berbatang tidak terlalu lebar. Kyungsoo duduk didekat pohon itu dan memeluk batang pohon itu, mungkin terkesan aneh tapi ia memang sedang membutuhkan sesuatu yang bisa dipeluknya.

Beberapa menit kemudian, ada tangan kekar yang memeluk pinggang rampingnya membuat Kyungsoo terlonjak kaget. Tapi entah kenapa, ada rasa hangat yang menelusup kedalam hatinya, rasa dingin akan angin sudah tidak terasa lagi, dan wangi pepermint yang dirindukannya menggelitik penciumannya.

“Kyungsoo Hyung, bogoshipo.” Sosok yang memeluknya itu menyurukkan kepalanya diceruk leher Kyungsoo membuat namja itu membatu.

“K-kai?” panggilnya ragu-ragu.

“Waeyo?” tanya namja itu yang ternyata Kai.

“Kenapa kau bisa disini?” tanya Kyungsoo lagi. Kai pun membalikan tubuh mungil Kyungsoo dengan mudahnya karena namja itu sudah tidak memeluk batang pohon kelapa.

“Memangnya kenapa kalau aku disini?” tanya Kai yang dibalas gelengan kepala oleh Kyungsoo.

“Hyung, apakah dihatimu ini masih ada aku?” tanya Kai membuat Kyungsoo membatu. Kenapa kau menanyakan hal itu Kai? Tentu saja kau selalu ada dihati Kyungsoo.

“Eh?” Kyungsoo terlihat salah tingkah karena pertanyaan Kai.

“Jawab saja Hyung.” Suruh Kai yang dibalas anggukan kepala oleh Kyungsoo. Kyungsoo pun menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan pipinya yang merona merah.

“Terima kasih Hyung, kau masih setia menungguku.” Bisik Kai tepat ditelinga Kyungsoo sambil meniupkan nafasnya membuat Kyungsoo kegelian.

Tiba-tiba, Kai merogoh kantongnya dan keluarlah sebuah kalung sederhana yang dibuat dengan tali sepatu dan bandul bunga khas Bali. Sederhana namun indah.

“Kau tau hyung? Aku mengurung diri dikamar sebenarnya untuk membuat ini.” Ucap Kai membuat Kyungsoo menatapnya tidak percaya. Kai pun memakaikan kalung itu keleher jenjang milik Kyungsoo dan ternyata kalung itu memang pas sekali untuk Kyungsoo.

“Yeppeo~” ucap Kai membuat pipi Kyungsoo kembali merona merah.

“Hyung, maukah kau kembali denganku? Bukankah Luhan Hyung yang bilang sendiri kalau kita harus bahagia Hyung? Apa kau bahagia denganku?”

“Ne, aku mau Kai. Aku selalu bahagia jika bersama denganmu, melihat wajahmu saja aku sudah bahagia Kai, apalagi jika memilikimu.”

Kai pun menatap Kyungsoo dengan intens dan menghapus jarak diantara mereka. Kai mengecup bibir tebal Kyungsoo dengan lembut, dan tiba-tiba, namja itupun melepaskan ciumannya membuat Kyungsoo menghela nafas err kesal.

“Hyung, ayo kita kekamarmu.” Ucap Kai sambil menyeret Kyungsoo masuk kehotel.

 

END~

 

Muehehehe, ending yang gaje😄 biarin deh, asalkan KaiSoo bersatu! Hahaha😄 btw, gimana yah kalo misalnya orang meluk pohon kelapa? Author aneh-aneh aja mikirnya pohon kelapa hehe😄 okelah, REVIEW/COMMENT now! *maksa* *digaplok*

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s